Pemecahan Masalah Matematik

Menurut Polya, problem solving matematik adalah suatu cara untuk menyelesaikan masalah matematika dengan menggunakan penalaran matematika (konsep matematika) yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika siswa menggunakan kerja intelektual dalam pelajaran, maka adalah beralasan bahwa pemecahan masalah yang diarahkan sendiri untuk diselesaikan merupakan suatu karakteristik penting (Silver, 1997).

Problem solving melibatkan konteks yang bervariasi yang berasal dari penghubungan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari untuk situasi matematika yang ditimbulkan (NCTM, 2000). Siswa dapat memecahkan beberapa masalah yang dimunculkan bagi mereka oleh orang lain. Akan tetapi lebih mudah bagi mereka untuk memformulasikan masalah mereka sendiri berdasarkan pengalaman pribadi dan ketertarikan (Poincare, dalam Silver, 1997).

Problem solving adalah komponen penting untuk belajar matematika di masa sekarang. Dengan problem solving, siswa akan mempunyai kemampuan dasar yang bermakna lebih, dari sekadar kemampuan berpikir, dan dapat membuat strategi-strategi penyelesaian untuk masalah-masalah selanjutnya.

Para siswa didorong supaya berpikir bahwa sesuatu itu multidimensi sehingga mereka dapat melihat banyak kemungkinan penyelesaian untuk suatu masalah. Problem solving dapat mempertajam kekuatan analisis dan kekuatan kritis siswa. Cara untuk mempersiapkan siswa menjadi problem solver yang efektif adalah dengan memberi mereka banyak contoh yang mencakup berbagai teknik problem solving.
Menurut Gagne (Ruseffendi, 1991: 169), dalam pemecahan masalah biasanya ada 5 langkah yang harus dilakukan, yaitu:
  1. Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas
  2. Menyatakan masalah dalam bentuk yang operasional (dapat dipecahkan)
  3. Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik untuk dipergunakan dalam memecahkan masalah itu
  4. Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya (pengumpulan data, pengolahan data, dan lain-lain), hasilnya mungkin lebih dari satu
  5. Memeriksa kembali (mengecek) apakah hasil yang diperoleh itu benar, atau mungkin memilih alternatif pemecahan yang terbaik
Menurut Polya (1957, dalam Suherman, dkk, 2003: 91), solusi soal pemecahan masalah memuat 4 langkah fase penyelesaian, yaitu:
  1. Memahami masalah
  2. Merencanakan penyelesaian
  3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana
  4. Melakukan pengecekan kembali
Problem solving harus menjadi bagian integral dari proses pengajaran yang dijalankan. Menurut Wahyudin (2003), ada 10 strategi problem solving yang dapat dijadikan dasar pendekatan mengajar, yaitu:
  1. Bekerja mundur
  2. Menemukan suatu pola
  3. Mengambil suatu sudut pandangan yang berbeda
  4. Memecahkan suatu masalah yang beranalogi dengan masalah yang sedang dihadapi tetapi lebih sederhana
  5. Mempertimbangkan kasus-kasus ekstrim
  6. Membuat gambar (representasi visual)
  7. Menduga dan menguji berdasarkan akal
  8. Memperhitungkan semua kemungkinan (daftar/pencantuman yang menyeluruh)
  9. Mengorganisasikan data
  10. Penalaran logis
Sementara menurut Utari-Sumarmo (2005: 6-7), sebagai tujuan, kemampuan pemecahan masalah dapat dirinci dengan indikator sebagai berikut.
  1. Mengidentifikasi kecukupan data untuk pemecahan masalah
  2. Membuat model matematik dari suatu situasi atau masalah sehari-hari dan menyelesaikannya
  3. Memilih dan menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika dan atau di luar matematika
  4. Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan asal, serta memeriksa kebenaran hasil atau jawaban
  5. Menerapkan matematika secara bermakna

comment 1 comments:

Smart Institute mengatakan...

apakah ada contoh aplikasinya????????????

Poskan Komentar

Delete this element to display blogger navbar

 
© Poin99.com | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger